Sepertinya untuk kembali naik sepeda motor, ada perasaan takut. Namun apakah ini berlebihan? Setelah dua kali ditabrak orang hanya dalam rentang waktu yang cukup singkat. Mungkin ada perasaan trauma.
Sampai-sampai harus terlalu hati-hati dalam mengendarai sepeda motor “si merah” kesayangan. Tapi perasaan takut ini, kenapa datang begitu saja. Pasca kecelakaan kedua yang terjadi akan berbuka puasa dua minggu lalu. Rasanya waktu itu menakutkan. Jalanan yang sepi diiringi dengan gerimis, namun tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan kencang dan langsung menabrak sepeda motor yang sedang berdiri
karena ingin menyeberang jalan. Allah masih Maha Penyayang. Walaupun saat itu, sempat berteriak, namun motor itu tetap menabrak. “Si Merah” pun ambruk. Untunglah. Kata-kata itu yang masih bisa terucap. Tak ada luka yang cukup parah. Namun rasa sakit di kepala sempat tak tertahankan saat helm yang dipakai terlepas dari kepala. Helm baru saja dibeli satu bulan lalu pun sepertinya menyelamatkan kepala ini dari hantaman aspal.
Namun, ditengah tergeletak di tengah jalan, ada saja orang yang mengambil kesempatan. Helm yang terlepas hingga ke tengah jalan raib dalam hitungan menit. Entah, terbuat dari apa orang itu. Bukannya ingin menolong tapi justru menyelamatkan si helm (karena memang helm jenis ini selalu gampang raib kalau tidak dijaga). Sempat dibawa ke UGD, rongen bagian pinggul dan menunggu reaksi kepala. Saat-saat ini, rasanya tak ingin membayangkan lagi. Walaupun dinyatakan semua baik-baik saja, namun untuk bagian kepala menurut dokter harus tetap di cek.Bahkan dokter bilang trauma di kepala yang berakibat akan sering sakit kepala bisa berlangsung 6 bulan. Istirahat di rumah selama satu minggu di rumah, rasanya cukup untuk menahan semua sakit di kaki dan kepala.
Namun kasihan si merah. Sebagian bodinya hancur. Ganti rugi yang diberikan si penabrak tak cukup untuk menganti semua biaya perbaikan. Si penabrak, entah siapa namanya (tak ingin kenal dan mengenal) masih bersikekeh kalau dia tetap benar (namun terbantahkan, namun tetap tak mau mengakui).
Rasanya tak ingin membayangkan lagi. Dua minggu lebih si merah tak dikendarai. Ketika pertama kali mengendarainya (setelah perbaikan di sana-sini), ada rasa gamang. Terlebih lagi, ketika ada kendaraan yang melintas dengan kencang. Begitu juga yang meng-klason dengan keras dari belakang. Dag-dig dug.. rasanya. Mungkin ini, baru hari pertama..traumakah??atau perasaan saja.
Rasa takut ini mungkin berlebihan. Namun, kenapa selalu ditabrak. Ketika hari bahagia bertambahnya usia tanggal 21 April lalu, tiba-tiba sebuah angkot menyenggol dari samping. Motor pun oleng hingga terbawa sampai ke tengah. Semoga saja ini, peristiwa yang terakhir dan tidak akan terjadi lagi.(*)



Duh Neneng only..
Besok-besok kalau naik motor hati-hati ya?
Kalo enggak, kan ada sang arjuna yang bs diminta tolong,
Kasihan kan, badan neneng dua kali jatuh dari motor..
Atau kalo enggak minta beliiin aja mobil ama Pak Gub (patungan dengan Pak Wagub, Sekda dan seluruh asisten (dijamin pasti bisa bawa mobil kerumah…he..he…)