Antara percaya dengan tidak percaya dengan hasil Rekaman Kotak hitam pesawat AdamAir dengan nomor penerbangan KI-574 yang hilang di Selat Makassar dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado tahun 2007 lalu yang kini telah tersiar ke publik. Karena kotak hitam yang seharusnya sangat dijaga kerahasiaannya telah menjadi konsumsi banyak orang. Bahkan juga membuat penasaran untuk didengarkan.
Sebuah pertanyaan besar, apakah memang patut itu menjadi konsumsi publik? Atau hanya ingin menunjukkan barang bukti? Tapi kalau memang benar rekaman asli, kesedihan akan kembali menyelimuti keluarga para penumpang. Mungkin kesedihan itu kembali mengangga. Apalagi dalam rekaman tersebut terdengar kepanikan kru pesawat. Lalu bagaimana dengan penumpang?
Apa pula yang akan dibayangkan oleh keluarga korban penumpang. Itu akan kembali membuka duka lama yang mungkin masih belum sembuh. Apalagi histeris teriakan kru pilot yang mengucapkan kalimat Allahu Akbar, sungguh memilukan.
Coba bayangkan anggota keluarga kita ditengah kepanikan, diujung maut tapi tidak bisa berbuat, hanya bisa berserah diri. Jenazah pun tidak ditemukan. Lalu, mereka mendengarkan rekaman itu?
Benar atau tidak rekaman itu, yang penting Keluarga Korban Tetap Tabah Dalam Menghadapi Cobaan Allah. Semua telah diatur olehNya.
Mungkin ada juga yang akan ketakutan dengan mendengar rekaman tersebut dan terlalu meresapinya. Sampai-sampai berpikir dua kali untuk naik pesawat terbang. Ketakutan dan ketidakpercayaan, mungkin saja muncul. Namun, risiko dari sesuatu memang harus ada. Tergantung bagaimana kita mempersiapkan diri untuk risiko.
Sebelumnya, kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan di koordinat 03.41.02S dan 118.08.53E. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan di koordinat 03.40.22S dan 118.09.16E. FDR ditemukan pukul 12.29 WIT di kedalaman 2.000 meter, sedangkan CVR ditemukan pukul 10.00 WIT di kedalaman yang sama dengan lokasi 21 meter dari FDR.



Percaya deh. Apa yang bisa disembunyikan jika kita manusia masih berada di atas bumi ini. Bukankah demikian Nineng?