Milih Politik atau Milih Mau Makan Apa Besok?
Peserta Pemilu tahun 2009 bertambah 34 partai politik dari 24 parpol. Mana partai pilihan Anda? Bingung ya? Sekarang aja udah bingung apalagi sudah dihadapkan pada 34 tanda partai dalam ruangan bilik kecil yang tidak bisa diintip siapapun. Atau Anda termasuk golongan golput karena tidak mau ikut memilih? Dengan alasan tidak mau dipusingkan dengan politik dan tidak akan mau menanggung dosa jika partai yang diusung tidak mampu memperjuangkan nasib rakyat.
Sepertinya, politik lebih merajai Indonesia ketimbang harus memikirkan “mau makan apa besok”. Ketika sebuah partai jor-joran menghabiskan dana jutaan rupiah, sedangkan disudut pinggir kota ada orang mengais rezeki dari tumpukan sampah. Entah mereka mengerti atau tidak mengapa orang berlomba-lomba masuk politik, yang penting bagi mereka sampah yang dipunggut bisa menganjal isi perut untuk besok.
Memang kontras ditengah pesta pora perpolitikan, harapan peningkatan kesejahteraan kadang menjadi janji manis yang tak ada penyelesaiannya. Apa ini terlupakan atau memang dilupakan. Atau memang masih menunda. Semoga saja di tahun 2009 mendatang harapan cerah itu betul-betul tidak lagi menjadi pekerjaan yang tertunda.
Kadang sebuah kekhawatiran dari orang-orang yang pesimis dengan politik, menilai politik sebuah sarana untuk mengembalikan semua yang sudah dikeluarkan dimasa pesta pora. Tidak peduli, si miskin atau si penganggur atau si miskin yang berprestasi.
Mengutip sebuah pernyataan Penulis buku Komat Kamit Politik Ruslan Ismail Mage, politik itu industri. Itulah sebabnya, saat ini orang berbondong-bondong untuk masuk politik. Ada dua kemungkinan menurut alumni Pasca Sarjana UI ini, kenapa orang tersebut mau terjun ke politik. Pertama, karena memang niat tulus untuk memberikan konstribusi mengakomodir semua aspirasi rakyat. Namun kemungkinan lain yang tidak diharapkan terjadi, parpol yang tidak ingin memberikan berkontribusi tapi hanya mencari keuntungan. Yakni, ingin mendapatkan keuntungan karena pemerintah menyediakan biaya politik bagi parpol yang masuk daftar pemilu, kedua ingin mendapat keuntungan dari merger dengan menjual suara ke kandidat lain dengan bayaran yang mahal.
Apakah kondisi politik kita seperti ini? Semua saja, parpol yang ada benar-benar menjadi parpol yang mau memberikan kontribusi kepada masyarakat dan tidak mengambil keuntungan.
Sekarang apakah masih bingung memilih? Semoga negara kita benar-benar dewasa dalam berpolitik dan tidak menjadikan politik sebagai ladang pencarian hidup. (*)



bikin parpol yuukk neng, biar bisa dapat subsidi dana pemerintah.. berapa juta neng? kabarnya lumayan lho..he.he..
ya udah, bikin paspor aja deh kalo gak bisa..
**nggak nyambung mode on
borong semuanya aja