Ketika Kata Bercerita

Inspirasi

Sungguh Hebat Yang Namanya Penguasa Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: puisi — afrianingsih @ 11:39 am
Tags: , , , , ,

Rakyat jelata memang harus siap menjadi apa saja
Tak peduli itu mau akan dihancurkan atau dikambinghitamkan
Malangnya, air mata darah akan menjadi pengaduan terakhir
Ketika bersalah, tidak ada ampun baginya

Sungguh hebat yang namanya penguasa
Dengan alasan itu, nasib rakyat jelata ini terpinggirkan
Tak peduli akan dijepit
Tak peduli terhimpit
Yang penting penguasa berkuasa

Bisakah sang penguasa menjadi pendorong semangat untuk nasib jelata ini?
Harusnya, nasib jelata ini terselamatkan
Karena pemimpin adalah pembimbing
Bukan sebagai penjerumus

Namun apa yang terjadi
Sungguh malang nasib jelata kini
Padahal sebelumnya, sang penguasa juga pernah merasakan jadi jelata
Tapi entah mengapa?
Pengalaman masa lalunya, seolah dikaburkan
Yang penting ini masanya sekarang dia memimpin
Saatnya membalas kesakitan yang dulu pernah dirasakan
Semua memang tergantung penguasa
Jika ingin dekat dengan penguasa, apakah harus menjilat atau melihatkan kinerja?

Padang,23 Juli 2008.

 

Menatap Senja, Kesepian Melambai Juli 19, 2008

Diarsipkan di bawah: puisi — afrianingsih @ 2:37 pm
Tags: , , , ,

Jika hari yang ditunggu itu datang, semua akan bergembira
Namun disitu terselip sebuah keraguan
Apakah, senja akan seindah yang kemarin atau mendung akan menutupi awan?
Sebuah kisah riwayat hidup, menjadi catatan dalam buku diary
Ketika malaikat mencatat peristiwa itu
Pertanda sebuah kebaikan dimulai

Perlahan, senja akan kembali ke pelukan bumi
Ini akan menjadi catatan lagi
Akankan senja meninggalkan lambaian berarti?
Atau hanya sekadar kecupan malam tetap diharapkan menanti

Pertanda, kereta malam tak lagi menyisakan penumpang
Harus bertahan ditengah guncangan pasir waktu
Esok apakah akan lebih baik
Dan senja kembali akan tersenyum agar selalu setia ditunggu
Walaupun kesepian akan datang menyusup

Padang, 19 Juli 2008:

Special Thanks to: Teman-teman yang akan melanjutkan studi di negeri orang,yang mungkin tidak sempat hadir.

 

Milih 34 Parpol, Bingung Ya? Juli 11, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 2:03 pm
Tags: , , , , , , ,

Milih Politik atau Milih Mau Makan Apa Besok?

Peserta Pemilu tahun 2009 bertambah 34 partai politik dari 24 parpol. Mana partai pilihan Anda? Bingung ya? Sekarang aja udah bingung apalagi sudah dihadapkan pada 34 tanda partai dalam ruangan bilik kecil yang tidak bisa diintip siapapun. Atau Anda termasuk golongan golput karena tidak mau ikut memilih? Dengan alasan tidak mau dipusingkan dengan politik dan tidak akan mau menanggung dosa jika partai yang diusung tidak mampu memperjuangkan nasib rakyat.
Sepertinya, politik lebih merajai Indonesia ketimbang harus memikirkan “mau makan apa besok”. Ketika sebuah partai jor-joran menghabiskan dana jutaan rupiah, sedangkan disudut pinggir kota ada orang mengais rezeki dari tumpukan sampah. Entah mereka mengerti atau tidak mengapa orang berlomba-lomba masuk politik, yang penting bagi mereka sampah yang dipunggut bisa menganjal isi perut untuk besok.
Memang kontras ditengah pesta pora perpolitikan, harapan peningkatan kesejahteraan kadang menjadi janji manis yang tak ada penyelesaiannya. Apa ini terlupakan atau memang dilupakan. Atau memang masih menunda. Semoga saja di tahun 2009 mendatang harapan cerah itu betul-betul tidak lagi menjadi pekerjaan yang tertunda. (lagi…)

 

Calon DPD Diminta Kontrak Politik Juli 11, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 1:14 pm
Tags: , , , , ,

Ruslan: Tak Perjuangkan Daerah, Mundur!

Analis Politik Ruslan Ismail Mage menyarankan, jika para calon Dwan Perwakilan Daerah (DPD) tetap ingin mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka calon DPD harus berani melakukan kontrak politik dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. Isi kontraknya: jika terpilih tapi tidak mampu mengakomodir aspirasi, maka yang bersangkutan harus mundur dari DPD.
Kontrak politik ini, kata Ruslan amat penting. Selain selama ini DPD dinilai masih belum menjalankan tugasnya memperjuangkan daerah belum optimal, sekarang UU membolehkan anggota partai politik (parpol) masuk DPD. ”Masuknya orang parpol ini dapat mengebiri DPD itu sendiri. Karena anggota DPD dari parpol ini dikhawatirkan akan lebih mengakomodir kepentingan parpol mereka sendiri,” katanya. (lagi…)