Ketika Kata Bercerita

Inspirasi

Pengadaan Beras Dalam Negeri Meningkat Juni 9, 2008

Diarsipkan di bawah: News — afrianingsih @ 2:12 pm
Tags: , , , , , , ,

Pengadaan Beras Capai 1,6 Juta Ton
Pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog hingga akhir Mei mencapai 1.525.337 ton, meningkat jika dibandingkan pada bulan yang sama tahun lalu 937.744 ton. Ini berarti Indonesia sudah mencadangkan sekitar 5 persen dari target total produksi 33 juta ton beras. Cadangan ini diperuntukkan untuk raskin persediaan gawat darurat seperti bencana dan juga untuk kebutuhan dalam negeri.

Meski terjadi peningkatan, namun Perum Bulog sepertinya harus terus bekerja keras. Awalnya Bulog menargetkan pengadaan beras dalam negeri 2,4 juta ton. Namun karena kebutuhan beras miskin (raskin) yang tahun ini meningkat jumlahnya dari 10 kilogram per rumah tangga miskin (RTM) menjadi 15 kilogram  begitu juga dengan periodenya meningkat dari 10 bulan menjadi 12 bulan mengharuskan Bulog menyediakan 3,8 juta ton beras. Artinya terjadi kekurangan cadangan 2,2 juta ton.  
Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar kemarin mengungkapkan  idealnya, Indonesia harus mencadangkan beras 10 persen dari target produksi beras. Walaupun kenyataannya tahun lalu, pertambahan produksi beras secara nasional hanya 1,6 dari 2 juta ton tidak mencapai target. Realisasi raskin mencapai 1.222.223 ton dari 19.100.000 RTM sasaran.

Saat ini, terdapat 1,8 ton cadangan beras yang ada di gudang-gudang bulog. Karena 300 ribu ton beras masuk di gudang Bulog setiap bulannya. Cadangan ini cukup untuk enam bulan ke depan.                                                             WapresJusuf Kalla Saat Pencanangan Padi

Tanam  Sabatang di TanjungAur Padang,

Jumat (6/6). (foto arif pribadi/padek)

“Kita sudah memiliki cadangan untuk enam bulan ke depan. Kita Kita berharap kondisi ini terus terjadi sampai akhir tahun sehingga cadangan kita bisa mencapai 10 persen dari target produksi kita,” kata Mustafa saat menghadiri Seminar Nasional Gerakkan Massal Alih Teknologi Ketahanan Pangan Nasional (Gematek Pangan Utama Nasional) yang di gelar Unand di Bumiminang.

Mustafa mengakui untuk menuju 3,8 juta ton memang perlu kerja keras sehingga krisis pangan di Indonesia. Saat ini kata Mustafa memang panen raya sudah berlalu terutama di daerah-daerah sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan lainnya. Namun, realisasi pembelian beras petani terbesar sudah dilakukan seperti di Jawa Timur yang mencapai 401 ribu ton pada bulan April lalu. Kemudian Jawa Tengah mencapai 199 ribu ton, disusul Jawa Barat sebanyak 174 ribu ton, sekitar 108 persen dari target 141 ribu ton. Selain itu Sulawesi Selatan 93 ribu ton, Nusa Tenggara Barat mencapai 40 ribu ton  dan Sumatera Selatan 33 ribu ton. Sementara itu, cadangan tersebut juga dipengaruhi oleh harga beras di pasaran. Apalagi saat ini harga pasar lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Sesuai dengan Inpres no 1/2008 yang berlaku sejak 22 April 2008 pengganti Inpres No.3 tahun 2007 ditetapkan HPP baru Gabah Kering Panen (GKP) Rp2.200/kg yang sebelumnya Rp2.000/kg, Gabah Kering Giling (GKG) di gudang Bulog Rp2.840/kg (sebelumnya Rp2.600) dan HPP beras di gudang Bulog Rp4.300 yang sebelumnya Rp4.000/kg.
Meski begitu, Bulog akan melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengadaan beras. Untuk yang jalur HPP, Perum Bulog katanya akan memberikan insentif dari harga HPP sedangkan jalur non HPP,  Bulog boleh membeli kualitas beras dibawah harga beras raskin Rp 4300 per kilogram. Harga tersebut boleh dibeli 10 persen dari harga raskin. Dari pembelian ini diperkirakan akan bisa dibeli beras 1 juta ton. Selain itu, Bulog juga akan bekerjasama dengan Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan melalui program penguatan cadangan beras  nasional melalui beberapa paket. Yakni 500 hektar treatment on farm dengan pemberian bibit gratis dan sebagainya, melakukan Gerakan Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Gabag/Beras (GP4GB) untuk mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan target 300 ribu hektar, kerjasama dengan perbankan BRI dan Bukopin dengan target 200 ribu hektar untuk kredit pasca panen. Selain itu juga dilakukan kerjasama dengan Departemen Kehutanan dan Perhutani dengan 60 ribu lahan kering dan target produksi 1,2 juta ton.
“Dengan tiga program ini kita harapkan kekurangan pasokan bisa dipenuhi. Melihat kondisi ini kita masih belum buru-buru melakukan ekspor. Jika tahun 2008 ini kita sudah bisa surplus maka 2009 baru kita bisa melakukan ekspor. Makanya kita lihat dulu kondisi cadangan kita tahun ini, ” kata Mustafa. (afi)

 

Leave a Reply