Ketika Kata Bercerita

Inspirasi

Adipura Sebuah Prestise atau Pura-Pura? Juni 6, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 1:40 pm
Tags: , , , , , ,

Penilaian Adipura, Sempat Berdebat Semalaman

Penghargaan Adipura yang berhasil diperoleh oleh lima kota di Sumbar. Padang untuk kategori kota besar, Kota Solok, Sawahlunto, Batusangkar, untuk kota kecil dan sebuah sertifikat untuk Painan. Memang ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi pemerintah setempat. Namun apa benar Adipura untuk kebersihan kota atau hanya sekadar prestise menjadi yang terbaik di antara kota yang ada.
Banyak yang bertanya kenapa bisa dapat Adipura. Padahal pasarnya saja kotor,  aliran sungai tersumbat dan bla..bla…
Sebagai salah seorang tim penilai, rasanya tidak kecewa dengan hasil yang sekarang. Terutama untuk Payakumbuh dan Painan (kebetulan sempat melakukan penilaian di Payakumbuh, Padangpanjang,Bukittinggi dan Painan). Umumnya memang tidak banyak yang berubah dari kota Payakumbuh yang dua kali beturut-turut mendapatkan Adipura.  Di Payakumbuh ini, terjadi perdebatan sengit antar tim penilai. Debat mulut pun sempat terjadi antara tim penilai dari Sumbar dengan tim penilai Regional Lingkungan Hidup . Perdebatan baru mereda setelah memasuki hari kedua penilaiaan. Tim penilai di Sumbar menilai tim penilai  regional tidak realistis dalam melakukan penilaian. Salah satu contoh, satu PKL yang ada di jalan utama diberi nilai hingga 30. Padahal, keberadaan PKL tersebut tidak mewaliki jalan utama yang cukup panjang. Bahkan yang menjadi perdebatan, keberadaan pohon peneduh di sepanjang pertokoaan. Di lapangan ditemukan halaman pertokoan tidak bisa ditanami peneduh lagi. Kecuali penghijuan dengan pot-pot. Perdebatan yang membuat tegang urat leher ini akhirnya reda. Meski sehari sebelumnya tak ada tegur sama dengan tim regional sampai akhirnya dibuat kesepakatan sehingga penilaian dilanjutkan ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi, objek yang menjatuhkan kota ini sehingga tidak mendapatkan Adipura kondisi pasar dan TPA. Pasar di Bukittinggi terutama pasar bawah dan Aur kuning jauh dari kondisi baik. Kendati di terminal Aur Kuning telah terpasang bildbord Perang terhadap sampah. Kenyataanya sampah masih tetap berserakan. Yang lebih memprihatikan, sampah kota ini dibuang di jurang Panorama. Apakah ini disebut peduli lingkungan? Kendati begitu, sejumlah jalan di kota wisata ini nyaris mendapat nilai sempurna karena pohon peneduh yang tersebut memenuhi fungsi sebagai peneduh.
Sedangkan untuk  Padangpanjang yang gagal meraih Adipura tahun ini rasanya memang banyak perubahan. Terutama untuk penilaiaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat gempa, bangunan TPA banyak yang rusak sehingga tidak dapat dinilai.  Apalagi organisasi di Pemko tersebut juga berubah dari Dinas Lingkungan Hidup menjadi Kantor lingkungan hidup.
Di Painan sendiri, dibandingkan pada penilaian tahap satu jauh mengalami perubahan. Kota ini terus berbenah. Bahkan, pembinaan pun terus dilakukan. Meski tidak mendapatkan Adipura, tapi sertifikat setidaknya bisa memotivasi untuk lebih baik lagi tahun depan.
Dalam secara keseluruhan untuk mendapatkan Adipura tak hanya melihat faktor fisik saja. Organisasi dan pembinaan oleh daerah ternyata juga menjadi penilaian. Walaupun porsi penilaian Adipura untuk fisik 80 persen dan yang lain-lain 20 persen.
Terlepas dari penilaian. Apakah sesudah ini kota yang berhasil mendapatkan Adipura akan terus berbenah atau terlena?. Atau demi sebuah prestise, piala Adipura hanya sebuah kepura-puraan? Hanya masyakarat yang bisa menilai sesudah ini. Karena perubahan itu akan terlihat apakah pemerintah tetap konsen atau tidak.

 

One Response to “Adipura Sebuah Prestise atau Pura-Pura?”

  1. eddy Says:

    Kalau cari kota yang benar2 bersih dan asri untuk mendapat Adipura, jangan cari di Indonesia. Tidak akan ketemu. Nah, kota2 yang menang Adipura itu adalah kota2 terbersih dari yang terkotor. Yah..hitung2 bikin kota2 lain juga berlomba-lomba untuk bisa menang Adipura juga. Biar para pengelola kota berusaha mengurangi kesemrawutan kotanya masing-masing. Mudah2an ke depannya para pemangku kepentingan di kota-kota tidak sekadar berbenah untuk dapat penghargaan Adipura, tapi demi menciptakan kota yang nyaman bagi warganya…amin….


Leave a Reply