Hingga Mei, 867 kasus DBD, 10 orang meninggal
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sumbar masih mengkhawatirkan. Penyebaran nyamuk ini pun semakin meluas. Hingga Mei 2008, tercatat sebanyak 867 kasus DBD dengan 10 orang meninggal. Data Dinas Kesehatan Sumbar mencatat selain Padang yang menjadi daerah endemis, ternyata Pesisir Selatan juga termasuk dalam daerah endemis. Ini dibuktikan dengan jumlah kasus DBD yang cukup tinggi sesudah Padang.

Di Padang, kasus DBD sebanyak 554 kasus tiga meninggal sedangkan di Pesisir Selatan terdapat sebanyak 192 kasus DBD dengan empat orang meninggal dunia. Daerah lain, yang kasus DBD nya masih tinggi Padangpariaman dengan 34 kasus, satu orang meninggal. Menyusul Tanahdatar dengan jumlah kasus sebanyak 22 kasus. Penderita lainnya yang meninggal di Pasaman sebanyak satu orang dan Dharmasraya satu orang. Pada Januari dan Februari kasus ini lebih tinggi dari bulan lain. Di Padang misalnya, pada Januari tercatat sebanyak 165 kasus dan tiga orang meninggal sedangkan di bulan Februari 142 kasus. Di bulan Mei, kasus ini kembali meningkat 94 kasus. Sedangkan di Pesisir Selatan tercatat 41 kasus dan bulan Februari sebanyak 71 kasus dengan satu orang meninggal.
“ Selain kita mengkhawatirkan bertambahnya kasus DBD, sekarang kita juga harus waspada terhadap penyebaran DBD ini. Kalau selama ini hanya di Padang yang menjadi konsentrasi peningkatan kasus, ternyata di Pesisir Selatan juga menjadi daerah endemis DBD,” kata Sekretaris Daerah Yohanes Dahlan usai rapat koordinasi DBD bersama instansi terkait di aula Kantor Gubernur kemarin.
Menurutnya, pemberantasan DBD ini perlu menjadi gerakan bersama. Apalagi melihat jumlah kasus yang terjadi saat ini. Bukan hanya sekadar melakukan fogging, tapi juga penyuluhan di masyarakat perlu terus ditingkatkan. Untuk itu perlu peran serta semua pihak dalam mensosialisasikan hal ini. Mulai dari PKK, Gabungan Organisasi Perempuan dan organisasi lainnya yang bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai DBD ini.
“Sekarang yang perlu kita perhatian bagaimana membersihkan sekolah/asrama, rumah atau di lingkungan tempat tinggal serta tempat kerja kita agar bisa terbebas dari jentik demam berdarah. Mari kita lakukan gerakan bersama untuk memberantasnya,” kata Yohanes yang juga mengungkapkan persoalan DBD ini akan menjadi topik pembahasan dalam rapat koordinasi bersama bupati/walikota Juli mendatang di Payakumbuh.
Yohanes menambahkan, salah satu upaya mengurangi kasus DBD ini dengan berbusana muslim. Ini dimaksudkan untuk mengurangi gigitan nyamuk DBD yang mengigit pada pagi dan sore hari. Namun, upaya pemberantasan sarang nyamuk juga cukup efektif sambil terus dilakukan sosialisasi.
Kepala tata usaha Dinas Kesehatan Sumbar, Magzaiben Zainir menambahkan saat ini yang perlu juga mendapatkan perhatian dalam penyebaran kasus selain genangan air bersih dan tumpukan-tumpukan kaleng atau lainnya, ternyata cangkang tanaman kakao juga larva-larva nyamuk . Larva ini juga dapat hidup di buku-buku bambu.
“Makanya perlu diperhatikan sarang-sarang tempat berkembangnya larva nyamuk ini. Karena di sarang-sarang tersebut nyamuk itu berkembang dengan baik,” katanya. Juga hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Badan BPM Sumbar, diwakili oleh Fatmawati kepala BPM kabupaten/kota di Sumbar. (afi)



Nice blog
please visit me back
and tukeran link yukk