Ketika Kata Bercerita

Inspirasi

Sungguh Hebat Yang Namanya Penguasa Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: puisi — afrianingsih @ 11:39 am
Tags: , , , , ,

Rakyat jelata memang harus siap menjadi apa saja
Tak peduli itu mau akan dihancurkan atau dikambinghitamkan
Malangnya, air mata darah akan menjadi pengaduan terakhir
Ketika bersalah, tidak ada ampun baginya

Sungguh hebat yang namanya penguasa
Dengan alasan itu, nasib rakyat jelata ini terpinggirkan
Tak peduli akan dijepit
Tak peduli terhimpit
Yang penting penguasa berkuasa

Bisakah sang penguasa menjadi pendorong semangat untuk nasib jelata ini?
Harusnya, nasib jelata ini terselamatkan
Karena pemimpin adalah pembimbing
Bukan sebagai penjerumus

Namun apa yang terjadi
Sungguh malang nasib jelata kini
Padahal sebelumnya, sang penguasa juga pernah merasakan jadi jelata
Tapi entah mengapa?
Pengalaman masa lalunya, seolah dikaburkan
Yang penting ini masanya sekarang dia memimpin
Saatnya membalas kesakitan yang dulu pernah dirasakan
Semua memang tergantung penguasa
Jika ingin dekat dengan penguasa, apakah harus menjilat atau melihatkan kinerja?

Padang,23 Juli 2008.

 

Menatap Senja, Kesepian Melambai Juli 19, 2008

Diarsipkan di bawah: puisi — afrianingsih @ 2:37 pm
Tags: , , , ,

Jika hari yang ditunggu itu datang, semua akan bergembira
Namun disitu terselip sebuah keraguan
Apakah, senja akan seindah yang kemarin atau mendung akan menutupi awan?
Sebuah kisah riwayat hidup, menjadi catatan dalam buku diary
Ketika malaikat mencatat peristiwa itu
Pertanda sebuah kebaikan dimulai

Perlahan, senja akan kembali ke pelukan bumi
Ini akan menjadi catatan lagi
Akankan senja meninggalkan lambaian berarti?
Atau hanya sekadar kecupan malam tetap diharapkan menanti

Pertanda, kereta malam tak lagi menyisakan penumpang
Harus bertahan ditengah guncangan pasir waktu
Esok apakah akan lebih baik
Dan senja kembali akan tersenyum agar selalu setia ditunggu
Walaupun kesepian akan datang menyusup

Padang, 19 Juli 2008:

Special Thanks to: Teman-teman yang akan melanjutkan studi di negeri orang,yang mungkin tidak sempat hadir.

 

Milih 34 Parpol, Bingung Ya? Juli 11, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 2:03 pm
Tags: , , , , , , ,

Milih Politik atau Milih Mau Makan Apa Besok?

Peserta Pemilu tahun 2009 bertambah 34 partai politik dari 24 parpol. Mana partai pilihan Anda? Bingung ya? Sekarang aja udah bingung apalagi sudah dihadapkan pada 34 tanda partai dalam ruangan bilik kecil yang tidak bisa diintip siapapun. Atau Anda termasuk golongan golput karena tidak mau ikut memilih? Dengan alasan tidak mau dipusingkan dengan politik dan tidak akan mau menanggung dosa jika partai yang diusung tidak mampu memperjuangkan nasib rakyat.
Sepertinya, politik lebih merajai Indonesia ketimbang harus memikirkan “mau makan apa besok”. Ketika sebuah partai jor-joran menghabiskan dana jutaan rupiah, sedangkan disudut pinggir kota ada orang mengais rezeki dari tumpukan sampah. Entah mereka mengerti atau tidak mengapa orang berlomba-lomba masuk politik, yang penting bagi mereka sampah yang dipunggut bisa menganjal isi perut untuk besok.
Memang kontras ditengah pesta pora perpolitikan, harapan peningkatan kesejahteraan kadang menjadi janji manis yang tak ada penyelesaiannya. Apa ini terlupakan atau memang dilupakan. Atau memang masih menunda. Semoga saja di tahun 2009 mendatang harapan cerah itu betul-betul tidak lagi menjadi pekerjaan yang tertunda. (lagi…)

 

Calon DPD Diminta Kontrak Politik Juli 11, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 1:14 pm
Tags: , , , , ,

Ruslan: Tak Perjuangkan Daerah, Mundur!

Analis Politik Ruslan Ismail Mage menyarankan, jika para calon Dwan Perwakilan Daerah (DPD) tetap ingin mendapat kepercayaan dari masyarakat, maka calon DPD harus berani melakukan kontrak politik dengan pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat. Isi kontraknya: jika terpilih tapi tidak mampu mengakomodir aspirasi, maka yang bersangkutan harus mundur dari DPD.
Kontrak politik ini, kata Ruslan amat penting. Selain selama ini DPD dinilai masih belum menjalankan tugasnya memperjuangkan daerah belum optimal, sekarang UU membolehkan anggota partai politik (parpol) masuk DPD. ”Masuknya orang parpol ini dapat mengebiri DPD itu sendiri. Karena anggota DPD dari parpol ini dikhawatirkan akan lebih mengakomodir kepentingan parpol mereka sendiri,” katanya. (lagi…)

 

Pengakuan Isra Analdo, mantan mahasiswa STIP Juni 20, 2008

Diarsipkan di bawah: News — afrianingsih @ 9:40 am
Tags: , , , , , ,

Pemukulan Sering Dilakukan Setelah Apel Malam

Tindakan kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menyebabkan meninggalnya almarhum Agung Bastian Gultom bukan tanpa alasan. Mahasiswa asal Sumbar Isra Analdo (19) mengaku memutuskan mengundurkan diri dari sekolah pelayaran itu tahun lalu karena tidak sanggup menahan penyiksaan.
Afrianingsih Putri__Padang

Siang kemarin, Isra Analdo bersama temannya datang ke Humas Pemprov Sumbar. Awalnya, hanya ingin sekadar mengunjungi orangtua sang kawan. Namun, saat itu Aldo begitu dia disapa berbagi cerita soal pengalaman pahitnya ketika bersekolah di STIP. Walau hanya satu bulan, Aldo masih mengingat jelas bagaimana taruna senior melakukan pemukulan terhadap dirinya.

Tak ada rasa takut dan gentar dari wajahnya pria yang memiliki tinggi dari 170 tersebut ketika menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada sejumlah wartawan. Wajahnya yang tenang seolah tidak menyesal karena harus gagal menjadi ahli pelayaran. Menurutnya hal itu tidak sebanding dengan apa yang sudah diterimanya selama bersekolah di sana. Meski sudah membayar Rp 8 juta untuk biaya masuk dan Rp 4 juta untuk uang sekolah semester.Walaupun sebelumnya, pria kelahiran 21 Februari 1989 ini membayangkan kalau bersekolah di STIP akan memberikan jaminan masa depan akan lebih baik. Karena untuk masuk di sekolah tersebut harus melewati seleksi yang ketat. Dari Sumbar sendiri kata Aldo hanya 8 orang yang lolos  pada angkatan 2007 tersebut. Aldo bersama temannya yang lain asal Bukittinggi Max Riandi (19) harus meninggalkan sekolah tersebut karena tidak tahan dengan perlakukan para senior.

“Pemukulannya tidak bisa dihitung. Kapan saja kalau senior itu mau ya dipukul. Hampir setiap hari, kami anak-anak baru mengalami kekerasan oleh senior. Aksi itu kadang dilakukan siang hari saat pergantian jam pelajaran, kadang saat apel malam. Pokonya dalam satu hari itu pasti dipukul. Bahkan pernah dipukuli saat jeda jam pelajaran.Pernah suatu siang saat pergantian jam pelajaran, saya mau buang air kecil. Saat keluar WC  dihadang tiga orang senior tingkat empat. Tanpa banyak tanya, ketiganya secara bergantian langung melayangkan pukulan ke kaki, perut, pipi dan dada,” cerita alumni SMA 10 Padang ini.
Aldo menceritakan bagaimana padatnya jadwal belajar di sana. Menurutnya, semua siswa di sana ditempatkan di asrama. Selama satu bulan di sekolah, mahasiswa tidak boleh keluar asrama dan menghubungi pihak keluarga. Kegiatan di sana lanjutnya dimulai dengan apel pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan proses belajar dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Kemudian istirahat siang pukul 12.00-13.00 WIB. Dilanjutkan dengan proses kuliah sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu, para taruna harus mengikuti kegiatan olahraga sampai pukul 18.00 WIB dan makan malam sekitar pukul 07.00 WIB. Biasanya tindakan pemukulan sering dilakukan saat apel malam sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kalau apel malam sering terjadi pemukulan. Menurut cerita memang pemukulannya turun temurun. Di angkatan saya, mungkin belum ada yang terlihat mengalami sakit karena pemukulan. Namun saya kurang tahu juga. Biasanya kalau ada kegiatan kesamaptaan, memang ada latihan fisik. Tapi paling itu hanya lari dan push up. Itu pun langsung diawasi dosen. Tidak ada yang memukul-mukul,” kata putra pasanganArza dan Erliza.

Pria yang tinggal di RT 03 RW 03 Bandar Buat ini mengaku hanya sanggup bertahan selama satu bulan di sekolah itu. Aldo yang orangtuanya Arzan bekerja di PT Semen Padang dan Erliza di Puskesmas Gadut ini memutuskan tidak kembali lagi ke STIP, pasca libur lebaran 2007.
“Saya masuk sekolah pada September 2007. Saat lebaran diberi libur selama satu minggu. Saat itu saya memutuskan untuk tidak kembali lagi. Dari pada mati, mending tidak sekolah sekalian. Orangtua juga mendukung setelah mendengar apa yang saya alami. Kemudian sebulan sesudah itu atau sekitar awal tahun 2008 pihak sekolah mengirimkan surat dikeluarkan dari STIP,” katanya yang saat ini akan mencoba keberuntungan masuk perguruan tinggi negeri biasa melalui jalur SNMPTN.
Aldo berharap  agar setiap orangtua yang berniat menyekolahkan anaknya di STIP, agar mencari informasi selengkapnya terlebih dahulu. Bahkan kalau bisa mengunjungi sekolah itu terlebih dahulu. Karena menurut informasi yang didapatkannya, tindak kekerasan sudah biasa di kampus itu, walau mungkin pimpinan kampus tidak mengetahui.
“Pihak sekolah mengawasi kami. Tapi apakah mereka mengetahui tindak kekerasan itu, tidak tahu juga. Ke depan kita berharap pihak sekolah dapat melakukan pengawasan lebih ketat lagi,” tambahnya.

Benar atau tidaknya pengakuan tersebut terserah pembaca menilainya. :) (*)

 

SKB Coba-Coba? Juni 10, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 12:51 pm
Tags: , , , , , , ,

Akhirnya setelah dua bulan Bakopakem melakukan rapat, Surat Keputusan Bersama (SKB) baru dikeluarkan kemarin (9/6). Banyak yang memandang SKB yang dikeluarkan pemerintah sangat hati-hati . Bahkan ada juga yang berpandangan sinis, SKB tersebut hanya sekadar coba-coba. Pasalnya, tidak ada sanksi tegas terhadap pembekuan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) jika melanggar SKB tersebut.

Banyak yang menyangsikan SKB ini dapat berjalan efektif. Karena, pemerintah pusat berkesan coba-coba dulu dan melihat reaksi setelah keluar SKB ini. Efektif atau tidaknya tergantung bagaimana nantinya pihak-pihak terkait menyikapi SKB tersebut. Karena ini menyangkut kerukunan dalam beragama.

Apa betul itu SKB coba-coba? Atau memang pemerintah memang terlalu hati-hati?Atau SKB ini hanya untuk merendam emosi sebagian masyarakat? Entahlah. Mungkin banyak pertimbangan yang dilakukan pemerintah. Apalagi dasar hukum untuk memberikan sanksi tidak mengatur. Namun, pemerintah  memang harus menetapkan aturan sesuai dengan aturan hukum yang ada.

Persoalan lain yang kadang juga menjadi perdebatan, kenapa harus menunggu dua bulan setelah terjadi peristiwa Monas, pemerintah seolah-olah buru-buru mengeluarkan SKB?. Apakah memang masyarakat kita yang tidak sabaran dalam menunggu keputusan SKB ini atau memang pemerintah menunggu reaksi dulu? Mumpung masyarakat adem-adem saja, pemerintah, juga adem-adem?

Banyak yang memberikan pendapat,” begitulah pemerintah terlalu hati-hati, saking hati-hatinya tidak mengeluarkan keputusan sama sekali. Sekali keluar itu pun sudah ada yang berdarah-darah”. Memang lucu pernyataan itu, kok pemerintah jadi serba salah. Tidak mengeluarkan SKB salah, mengeluarkan SKB juga dikritik. Aduh…payahnya posisi pemerintah.

Tapi, keluarnya SKB ini sebagai langkah awal, bahwa kerukunan ini perlu tetap dijaga. Terlepas apakah itu SKB coba-coba atau SKB yang tak “bergigi”. Semoga saja SKB ini dapat meredam dan mewujudkan Indonesia tetap damai, rukun dan berbagai suku, agama dan ras..Saatnya Indonesia bangkit lebih baik. Indonesia bisa (bisa nggak ya… :) )

 

Dunia Berharap pada Pangan Indonesia Juni 9, 2008

Diarsipkan di bawah: News — afrianingsih @ 2:24 pm
Tags: , , , , , , ,

Biarpun Indonesia masih mengalami berbagai persoalan dalam mengelola produksi beras nasional, namun dunia masih menganggap Indonesia mampu keluar dari krisis pangan. Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengklaim harga beras dalam negeri masih terbilang stabil jika dibandingkan negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Bahkan Presiden Madagaskar mengharapkan Indonesia dapat membagi pengetahuan dan keunggulannya di bidang budidaya tanaman padi yang mereka nilai sangat mengesankan. Hingga Mei produksi Gabah Kering Giling sudah mencapai 31 juta ton atau sekitar 81 persen dari target 33 juta ton.
Jika melihat kenyataannya, tahun lalu Indonesia gagal mencapai target penambahan produksi beras. Awalnya ditargetkan penambahan produksi beras 2 juta ton, namun realisasinya hanya  1,6 juta ton. Impor beraspun dilakukan Indonesia untuk mengisi cadangan beras dalam negeri.
“ Dalam pertemuan KTT tentang Ketahanan Pangan di Roma Italia beberapa waktu lalu Indonesia diakui mampu keluar dari krisis pangan. Semua mengucapkan selamat ke Indonesia. Dunia mengakui produksi pangan kita bagus bahkan negara Madagaskar meminta agar Indonesia membantu negara tersebut akan dapat meningkatkan produksi mereka,” kata Anton usai menjadi Keynote Speaker dalam Lokakarya Gerakan Massal Alih Teknologi (Gamatek) yang digelar Universitas Andalas (Unand) di Hotel Bumiminang kemarin.
Anton mengungkapkan dengan pengalaman dan kemampuan Indonesia dalam sektor pertanian khususnya produksi padi, Indonesia siap mengirimkan tenaga ahli sejumlah yang dibutuhkan, bahkan juga petani unggul Indonesia untuk membagi pengetahuan dan keahliannya, sehingga SDM pertanian padi Madagaskar dapat meningkat.
Anton justru prihatin, bahwa yang mengakui Indonesia selalu bermasalah dengan beras justru masyarakat Indonesia sendiri. Menurutnya jika menggunakan data 10 tahun yang lalu mungkin hal demikian tidak sesuai lagi. Bahkan Indonesia selalu disebut-sebut sebagai importir pangan terbesar. Padahal kenyataannya kata Mentan justru Indonesia termasuk pengimpor yang cukup kecil jika dibandingkan dari presentasi produksi dengan jumlah yang diimpor. Bahkan negara Arab Saudi dan Inggris juga termasuk pengimpor terbesar juga.
“Coba bandingkan dengan negara lain. Tahun 2008 ini harga beras kita paling stabil. Amerika Serikat dan Inggris justru pembelian berasnya dibatasi. Begitu juga dengan Thailand. Di Indonesia kita tidak bisa membatasi pembelian beras. Makanya Indonesia disebut-sebut sebagai satu-satunya negara yang harga berasnya cukup stabil,”  kata Anton lagi.
Anton menegaskan tidak ada satupun di negara di dunia ini yang mampu memproduksi semuanya sendiri. Walaupun Indonesia mengimpor beras, ternyata juga banyak komoditi lain Indonesia yang diekspor, mulai dari karet, valina, Crude Palm Oil (CPO)  dan kakao.
“Kita tidak jelek-jelek amat kok. Kalau swasembada beras bukan berarti tidak ada impor sama sekali. Itu mustahil terjadi. Tahun 1984 justru impor beras lebih besar dari tahun 2005 yang impor berasnya hanya 150 ribu ton.
Tahun ini saja kita mengalami peningkatan produksi di saat negara lain produksi  pengekspor seperti Thailand dan Vietnam menurun,” kata Mentan lagi.
Menurutnya, jika supply beras tersebut dapat terjaga maka harga di pasaran akan relatif stabil. Saat ini, stock beras tersebut tetap dijaga di Bulog mulai dari pengadaan beras dalam negeri dengan pembelian Harga Penetapan Pemerintah (HPP).

Canangkan Padi Tanam Sabatang
Sementara di Padangpariaman kemarin, Mentan Anton Apriantono mencanangkan metoda Padi Tanam Sabatang (PTS) dan penggunaaan kompos jerami, di Kabupaten Padangpariaman. Pencanangan yang dipusatkan di Tani Maju Sakato Korong Chaniago Kenagarian Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman tersebut juga dihadiri Asisten II Surya Dharma Sabarin, Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Sumbar  Djoni, Bupati Padangpariaman Muslim Kasim, unsur Muspida, serta kelompok-kelompok tani yang ada di Kabupaten Padangpariaman.
Menurut Anton Apriantono, dengan mulai dicanangkan PTS di Kabupaten Padangpariaman diharapkan ke depannya akan mengairahkan petani untuk turun ke sawah. Karena dari beberapa kali uji coba yang dilakukan, ternyata produksi padi yang dihasilkan meningkat dari pola tanam biasa yang telah dilakukan selama ini. Apalagi ditunjang dengan penggunanan kompos dari jerami, yang selama dibakar petani jika akan menggarap sawah kembali usai dipanen. “Untuk itu saya mengharapkan kepada petani kita untuk beralih ke metoda PTS dan menggunakan kompos dari jerami untuk membantu menyuburkan tanah, dengan mulai mengurangi pupuk-pupuk yang diproduksi pabrik,“ ungkap Mentan.
Kompos jerami, jelas Mentan, sangat baik dan dianjurkan digunakan pada budidaya padi termasuk sistem PTS yang mulai dikembangkan di daerah ini, karena  mempunyai banyak manfaat bagi tanaman maupun bagi tanah serta lingkungan. “ Manfaat kompos jerami ini diantaranya dapat mengemburkan tanah, meningkatkan kemampuan tanah untuk mengikat air. Disamping juga dapat meningkatkan aktivitas biologi tanah, mengurangi pencucian unsure hara pada tanah dan dapat juga menekan penyakit  tanaman terutama yang bersifat tular tanah, “ tambah Mentan.
Disisi lain Mentan, juga mengharapkan kepada petani di daerah ini untuk berupaya mencari usaha sampingan. Karena dengan semakin terbatasnya lahan pertanian,dipastikan petani tidak akan bisa sejahtera dengan pendapatan yang diperolehnnya dari usaha pertanian. Banyak usaha yang bisa dilakukan petani untuk menambah pendapatan seperti sebagai penyalur pupuk, penangkar benih atau usaha lainnnya untuk menunjang pendapatan. Kemudian masalah permodalan yang dirasakan petani selama, maka pemerintah telah menyediakan kredit tanpa agunan yang mulai disalurkan BRI. “ Kredit ini bisa dimanfaatkan petani untuk menunjang usahanya, “ sebut Anton lagi.
Sementara itu Bupati Padangpariaman Muslim Kasim mengungkapkan, metoda PTS dan penggunaan kompos jerami di Kabupaten Padangpariaman selama ini telah terbukti meningkatkan produksi pertanian. Pada tahun 2007 lalu produksi padi sawah di daerah ini sebesar 4,43 ton per hektarnya dengan total produksi sebesar 240.196,83 jika intensitas pertanaman 2,35 persen tahun. “ Dengan PTS dan penggunaan kompos jerami produksi ditargetkan akan menjadi 288.236,18.18 ton selama setahun untuk dua kali musim tanam.
Hal ini akan mengalami kenaikan sebesar 48.039,36 ton. Artinya Padangpariaman akan mengalami surplus beras dari 30 persen dari total kebutuhan menjadi 45 persen atau sebesar 104.833,53 ton yang sebelumnya hanya 69.889,02 ton, “ ungkap Muslim Kasim. Berhasil pembangunan bidang pertanian di Kabupaten Padangpariaman, tambah Muslim Kasim, ini dibuktikan dengan berhasil dikuranginnya jumlah keluarga miskin di Padangpariaman. “ Kalau sebelumnya KK miskin itu berjumlah 28.000 KK dengan mulai dicanangkan sejumlah program pertanian daerah ini maka  jumlah keluarga miskin menurun  menjadi 14 ribu, “ ungkap Muslim Kasim lagi. (afi/mg13)

 

Pengadaan Beras Dalam Negeri Meningkat Juni 9, 2008

Diarsipkan di bawah: News — afrianingsih @ 2:12 pm
Tags: , , , , , , ,

Pengadaan Beras Capai 1,6 Juta Ton
Pengadaan beras dalam negeri oleh Perum Bulog hingga akhir Mei mencapai 1.525.337 ton, meningkat jika dibandingkan pada bulan yang sama tahun lalu 937.744 ton. Ini berarti Indonesia sudah mencadangkan sekitar 5 persen dari target total produksi 33 juta ton beras. Cadangan ini diperuntukkan untuk raskin persediaan gawat darurat seperti bencana dan juga untuk kebutuhan dalam negeri.

Meski terjadi peningkatan, namun Perum Bulog sepertinya harus terus bekerja keras. Awalnya Bulog menargetkan pengadaan beras dalam negeri 2,4 juta ton. Namun karena kebutuhan beras miskin (raskin) yang tahun ini meningkat jumlahnya dari 10 kilogram per rumah tangga miskin (RTM) menjadi 15 kilogram  begitu juga dengan periodenya meningkat dari 10 bulan menjadi 12 bulan mengharuskan Bulog menyediakan 3,8 juta ton beras. Artinya terjadi kekurangan cadangan 2,2 juta ton.  
Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar kemarin mengungkapkan  idealnya, Indonesia harus mencadangkan beras 10 persen dari target produksi beras. Walaupun kenyataannya tahun lalu, pertambahan produksi beras secara nasional hanya 1,6 dari 2 juta ton tidak mencapai target. Realisasi raskin mencapai 1.222.223 ton dari 19.100.000 RTM sasaran.

Saat ini, terdapat 1,8 ton cadangan beras yang ada di gudang-gudang bulog. Karena 300 ribu ton beras masuk di gudang Bulog setiap bulannya. Cadangan ini cukup untuk enam bulan ke depan.                                                             WapresJusuf Kalla Saat Pencanangan Padi

Tanam  Sabatang di TanjungAur Padang,

Jumat (6/6). (foto arif pribadi/padek)

“Kita sudah memiliki cadangan untuk enam bulan ke depan. Kita Kita berharap kondisi ini terus terjadi sampai akhir tahun sehingga cadangan kita bisa mencapai 10 persen dari target produksi kita,” kata Mustafa saat menghadiri Seminar Nasional Gerakkan Massal Alih Teknologi Ketahanan Pangan Nasional (Gematek Pangan Utama Nasional) yang di gelar Unand di Bumiminang.

Mustafa mengakui untuk menuju 3,8 juta ton memang perlu kerja keras sehingga krisis pangan di Indonesia. Saat ini kata Mustafa memang panen raya sudah berlalu terutama di daerah-daerah sentra produksi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan lainnya. Namun, realisasi pembelian beras petani terbesar sudah dilakukan seperti di Jawa Timur yang mencapai 401 ribu ton pada bulan April lalu. Kemudian Jawa Tengah mencapai 199 ribu ton, disusul Jawa Barat sebanyak 174 ribu ton, sekitar 108 persen dari target 141 ribu ton. Selain itu Sulawesi Selatan 93 ribu ton, Nusa Tenggara Barat mencapai 40 ribu ton  dan Sumatera Selatan 33 ribu ton. Sementara itu, cadangan tersebut juga dipengaruhi oleh harga beras di pasaran. Apalagi saat ini harga pasar lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Sesuai dengan Inpres no 1/2008 yang berlaku sejak 22 April 2008 pengganti Inpres No.3 tahun 2007 ditetapkan HPP baru Gabah Kering Panen (GKP) Rp2.200/kg yang sebelumnya Rp2.000/kg, Gabah Kering Giling (GKG) di gudang Bulog Rp2.840/kg (sebelumnya Rp2.600) dan HPP beras di gudang Bulog Rp4.300 yang sebelumnya Rp4.000/kg.
Meski begitu, Bulog akan melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengadaan beras. Untuk yang jalur HPP, Perum Bulog katanya akan memberikan insentif dari harga HPP sedangkan jalur non HPP,  Bulog boleh membeli kualitas beras dibawah harga beras raskin Rp 4300 per kilogram. Harga tersebut boleh dibeli 10 persen dari harga raskin. Dari pembelian ini diperkirakan akan bisa dibeli beras 1 juta ton. Selain itu, Bulog juga akan bekerjasama dengan Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan melalui program penguatan cadangan beras  nasional melalui beberapa paket. Yakni 500 hektar treatment on farm dengan pemberian bibit gratis dan sebagainya, melakukan Gerakan Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Gabag/Beras (GP4GB) untuk mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dengan target 300 ribu hektar, kerjasama dengan perbankan BRI dan Bukopin dengan target 200 ribu hektar untuk kredit pasca panen. Selain itu juga dilakukan kerjasama dengan Departemen Kehutanan dan Perhutani dengan 60 ribu lahan kering dan target produksi 1,2 juta ton.
“Dengan tiga program ini kita harapkan kekurangan pasokan bisa dipenuhi. Melihat kondisi ini kita masih belum buru-buru melakukan ekspor. Jika tahun 2008 ini kita sudah bisa surplus maka 2009 baru kita bisa melakukan ekspor. Makanya kita lihat dulu kondisi cadangan kita tahun ini, ” kata Mustafa. (afi)

 

Laki-laki Mau Dimanfaatkan? Juni 6, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 1:57 pm
Tags: , , ,

Mengelitik ketika ada yang bertanya kenapa laki-laki mau dimanfaatkan?Dimanfaatkan untuk hal-hal yang kadang tidak penting oleh seorang perempuan. Apa benar perempuan memanfaatkan laki-laki? Atau justru sebaliknya laki-laki yang memanfaatkan perempuan?

Dikehidupan nyata itu kadang terjadi.  Tapi laki-laki selalu mengelak kalau dibilang dimanfaatkan. Justru si laki-laki membantah, semua yang dilakukan karena ada maunya dari perempuan. Siapa yang dimanfaatkan dan memanfaatkan memang tergantung tujuan akhirnya seperti apa.

Kalau ada laki-laki yang bersedia dimanfaatkan asal apa yang diinginkan itu  tercapai. Tapi kadang istilah dimanfaatkan tak selalu dipandang negatif dengan berkilah untuk menolong kawan. Apa benar motif seperti itu?Atau memang ada laki-laki mau dimanfaatkan? Untuk kilah apapun?

 

Adipura Sebuah Prestise atau Pura-Pura? Juni 6, 2008

Diarsipkan di bawah: Oret-oret — afrianingsih @ 1:40 pm
Tags: , , , , , ,

Penilaian Adipura, Sempat Berdebat Semalaman

Penghargaan Adipura yang berhasil diperoleh oleh lima kota di Sumbar. Padang untuk kategori kota besar, Kota Solok, Sawahlunto, Batusangkar, untuk kota kecil dan sebuah sertifikat untuk Painan. Memang ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi pemerintah setempat. Namun apa benar Adipura untuk kebersihan kota atau hanya sekadar prestise menjadi yang terbaik di antara kota yang ada.
Banyak yang bertanya kenapa bisa dapat Adipura. Padahal pasarnya saja kotor,  aliran sungai tersumbat dan bla..bla…
Sebagai salah seorang tim penilai, rasanya tidak kecewa dengan hasil yang sekarang. Terutama untuk Payakumbuh dan Painan (kebetulan sempat melakukan penilaian di Payakumbuh, Padangpanjang,Bukittinggi dan Painan). Umumnya memang tidak banyak yang berubah dari kota Payakumbuh yang dua kali beturut-turut mendapatkan Adipura.  Di Payakumbuh ini, terjadi perdebatan sengit antar tim penilai. Debat mulut pun sempat terjadi antara tim penilai dari Sumbar dengan tim penilai Regional Lingkungan Hidup . Perdebatan baru mereda setelah memasuki hari kedua penilaiaan. Tim penilai di Sumbar menilai tim penilai  regional tidak realistis dalam melakukan penilaian. Salah satu contoh, satu PKL yang ada di jalan utama diberi nilai hingga 30. Padahal, keberadaan PKL tersebut tidak mewaliki jalan utama yang cukup panjang. Bahkan yang menjadi perdebatan, keberadaan pohon peneduh di sepanjang pertokoaan. Di lapangan ditemukan halaman pertokoan tidak bisa ditanami peneduh lagi. Kecuali penghijuan dengan pot-pot. Perdebatan yang membuat tegang urat leher ini akhirnya reda. Meski sehari sebelumnya tak ada tegur sama dengan tim regional sampai akhirnya dibuat kesepakatan sehingga penilaian dilanjutkan ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi, objek yang menjatuhkan kota ini sehingga tidak mendapatkan Adipura kondisi pasar dan TPA. Pasar di Bukittinggi terutama pasar bawah dan Aur kuning jauh dari kondisi baik. Kendati di terminal Aur Kuning telah terpasang bildbord Perang terhadap sampah. Kenyataanya sampah masih tetap berserakan. Yang lebih memprihatikan, sampah kota ini dibuang di jurang Panorama. Apakah ini disebut peduli lingkungan? Kendati begitu, sejumlah jalan di kota wisata ini nyaris mendapat nilai sempurna karena pohon peneduh yang tersebut memenuhi fungsi sebagai peneduh.
Sedangkan untuk  Padangpanjang yang gagal meraih Adipura tahun ini rasanya memang banyak perubahan. Terutama untuk penilaiaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat gempa, bangunan TPA banyak yang rusak sehingga tidak dapat dinilai.  Apalagi organisasi di Pemko tersebut juga berubah dari Dinas Lingkungan Hidup menjadi Kantor lingkungan hidup.
Di Painan sendiri, dibandingkan pada penilaian tahap satu jauh mengalami perubahan. Kota ini terus berbenah. Bahkan, pembinaan pun terus dilakukan. Meski tidak mendapatkan Adipura, tapi sertifikat setidaknya bisa memotivasi untuk lebih baik lagi tahun depan.
Dalam secara keseluruhan untuk mendapatkan Adipura tak hanya melihat faktor fisik saja. Organisasi dan pembinaan oleh daerah ternyata juga menjadi penilaian. Walaupun porsi penilaian Adipura untuk fisik 80 persen dan yang lain-lain 20 persen.
Terlepas dari penilaian. Apakah sesudah ini kota yang berhasil mendapatkan Adipura akan terus berbenah atau terlena?. Atau demi sebuah prestise, piala Adipura hanya sebuah kepura-puraan? Hanya masyakarat yang bisa menilai sesudah ini. Karena perubahan itu akan terlihat apakah pemerintah tetap konsen atau tidak.